Inspiring Site

Prosa : Catatan Seorang Istri

Menunggu

Banyak yang meragukan mengapa kita harus menunggu. Bahkan lebih banyak lagi yang tidak menyukai menunggu. Menunggu adalah perpaduan antara rindu dan pasrah yang tak menentu. Mungkin ketidakpastian adalah duri dari semua penantian. Tak ada orang yang ingin terluka, hingga tak ada orang yang mau bersabar menghadapi sakit dalam menunggu.

Aku adalah orang yang terlalu banyak menunggu dalam hidupku. Hingga lucunya, mungkin tubuhku telah terbiasa dengan rasa sakitnya dan kini aku menikmati setiap ketidakpastiannya. Mau mencoba?

Hari-hariku berjalan dengan menunggu. Setiap pulang kerja, aku mampir ke minimarket terdekat mencari bahan masakan dari resep baru yang aku cari di pagi harinya. Di kasir aku menunggu, mataku terbiasa menatap iklan baru yang biasanya terpampang di dekat pintu keluarnya. Atau telingaku sudah hapal pembicaraan ringan para penjaga minimarket hingga kadang mulutku ikut nimbrung dengan mereka. Sekedar mengisi waktu saat menunggu.

Tiba di rumah, aku bergegas menyiapkan makan malam spesial dan merias diriku. Hari ini menunya adalah ayam presto. Aku menunggu ayam yang sedang dipresto hampir satu jam. Jemariku refleks menekan tombol radio dan badanku terbiasa untuk bergoyang kecil mengikuti irama. Sekedar menikmati waktu saat menunggu.

Jarum jam sudah di angka tujuh. Seharusnya dia sudah pulang. Tapi belum ada tanda-tanda sama sekali. Kenyamananku menunggu sedikit terusik. Kali ini rindu telah mengaburkan keseimbanganku dalam menunggu. Tanganku menekan tuts-tuts handphone:

“Hari ini pulang jam berapa sayang, makan malam spesial uda siap nie🙂 “

Lima menit aku menunggu. Belum ada jawaban. Tujuh menit, keseimbanganku terusik lagi. Sabar,, aku mencoba menenangkan hatiku. Saat seperti ini, hatiku refleks mengulang kalimat dzikir. Semoga semua baik-baik saja. Sepuluh menit kemudian handphoneku bergetar

” ini baru aja keluar kantor, see you soon pumpkin🙂 ”

Hatiku makin berdegup. Entah mengapa, menunggu selalu membuatku rindu. Padahal kami telah bersama selama sepuluh tahun, tapi tetap saja saat aku mengantarnya berangkat ke kantor di pagi hari, saat itulah hatiku memulai menunggu saat kami akan bertemu kembali. Sesungguhnya bukan karena aku terlalu mencintai dia, karena menurutku cinta itu adalah rasa yang hilang timbul. Jangan pernah menunggu cinta, bila tak ingin kecewa. Tapi menunggulah dengan cinta karena engkau ingin menghargai setiap detik dalam prosesnya.

Bagiku hidup ini adalah menunggu. Menunggu untuk tidak hidup lagi. Menunggu untuk rahasia hidup selanjutnya. Ada banyak sikap yang bisa kita lakukan saat menunggu. Dan setelah bertahun-tahun berlatih menunggu aku belajar untuk mengisi waktu dan berdamai saat menunggu. Dan dia, suamiku, adalah pasanganku dalam menunggu kejutan-kejutan yang diberikan hidup. Menunggu ketetapan Tuhan bersamanya adalah anugerahku.

tok..tok..

Itu dia. Aku berlari kecil ke depan cermin mematut diriku sebentar. Senyumku mengembang, perlahan membuka pintu. Mencium tangannya, mengecup ringan pipinya, dan berbisik ditelinganya.

“Selamat datang, telah lama aku menunggumu… kekasihku”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s