Inspiring Site

Tebu atau Gula??

Pernah mendengar istilah “Habis manis, sepah dibuang,”? mungkin kita menggunakan perumpamaan tersebut untuk menggambarkan sesuatu atau seseorang yang dinilai sudah tidak dapat memberikan manfaat lagi, kemudian disisihkan begitu saja. Kadang kita marah, kalau diperlakukan seperti sepah. Padahal, kita juga akan membuang sepah itu jika sudah tidak ada lagi rasa manisnya. Ini soal siapa pelaku dan siapa korbannya saja. Kita tidak suka jadi korban, itu saja. Bukankah kita juga tidak ingin menyimpan sepah dirumah? Wajar jika sepah itu dibuang. Yang tidak wajar adalah yang belum menjadi sepah sudah dibuang. Juga tidak wajar jika kita sudah menjadi sepah, tetapi menuntut orang lain untuk terus menerus menikmati rasa manis yang sudah tidak kita miliki lagi. Talking-Talking (Ngomong-ngomong), ‘sepah’ itu apa sih??

Walaupun bukan daerah penghasil gula, namun di kampung halaman saya terdapat rumpun-rumpun pohon tebu. Dulu ketika masih kecil jika saya diajak alm. Mbah ke sawah, saya pasti dipotongkan tebu oleh alm.mbah. Beliau menggunakan parang untuk memotong batangnya, lalu mengupas kulitnya. Kemudian memotong batang tebu itu menjadi seukuran jari-jari telunjuk. Setelah itu diberikan ke saya untuk dikunyah sambil menunggu beliau bekerja di sawah. Rasa manis memenuhi mulut saya. Lalu tiba saatnya dimana kunyahan itu hanya menyisakan rasa tawar saja. Di mulut saya sekarang hanya tertinggal ampas. Saya membuang ampas itu ke tanah. Benda tak berdaya diatas tanah itulah yang kita sebut sebagai “sepah”. Habis manis, sepah dibuang. Memangnya harus diapakan lagi sepah itu jika tidak dibuang? Kita sering menggambarkan hidup yang sudah tidak berguna sebagai sepah. Kita sadar jika sudah tidak berguna, tetapi masih ngotot untuk tidak dibuang. Sedih, marah, kecewa jika kita diperlakukan seperti sepah. Namun, jika kita bisa mengubah paradigma tentang sepah ataupun tentang hidup mungkin tidak akan ada lagi rasa sedih, marah dan kecewa.

Jika diperhatikan, orang-orang yang bisa memberi manfaat bagi lingkungannya seperti Para dermawan, selalu dikerubungi oleh para pengikut setianya. Para alim ulama dan orang-orang berilmu, selalu menjadi rujukan para pencari pencerahan. Siapapun yang bisa memberi manfaat kepada orang lain, bisa dipastikan selalu dibutuhkan oleh mereka. Sedangkan saya atau Kita? Sesekali orang lain itu mbok ya membutuhkan kita gitu loh hehe. Tapi mengapa yang terjadi kadang malah sebaliknya ya? Mereka malah mengira seolah kita ini tidak ada. Sekalipun kita sudah menyodor-nyodorkan wajah kita. Tetap saja masih tidak mereka lihat. Sudah beriklan, bahkan. Tapi juga tidak ditanggapi. Mungkin, karena kita belum bisa menjadi seseorang yang memberikan rasa manis bagi mereka. Karena sudah menjadi kodrat manusia untuk mengerubuti segala sesuatu yang terasa manis.

Mari berhenti untuk marah atau kecewa jika orang lain membuang kita karena mereka menilai kita sudah menjadi sepah. Mereka tidak salah. Kitalah yang harus berpikir bagaimana caranya supaya tidak menjadi sepah. Sebab jika kita masih tetap memiliki rasa manis itu, mereka tidak akan membuang kita, percayalah. Tidak perlu lagi untuk merasa kecewa karena telah dihempaskan oleh lingkungan yang kita harapkan memberikan penerimaan. Mungkin mereka benar telah menghempaskan kita karena kita belum bisa memberi rasa manis yang mereka butuhkan. Mungkin juga mereka keliru karena tidak bisa menghargai rasa manis yang kita miliki. Tetapi, bukan itu yang perlu menjadi fokus perhatian kita sekarang. Cukuplah untuk selalu memikirkan, bagaimana caranya agar kita bisa memberikan lebih banyak lagi rasa manis? Karena dengan rasa manis yang kita tebarkan, kita tidak perlu meneriaki para semut untuk mengerubuti. Insya Allah, cepat atau lambat; mereka akan datang sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s